Sampah Data Lamaran Kerja di Indonesia 🗑

  • Ryan Isra
  • Dec 19, 2023
Table Of Content [ Close ]

Sampah Data Lamaran 🗑

Pagi ini saya baca lagi (kesekian kalinya) protes kepada para HRD atau yang berkepentingan mensortir data para pelamar kerja, dan sambil menemani sarapan nasi kuning 🍚, kok saya gatel mau ikut merespon & sharing dari sisi saya sebagai recruiter di Herbaltum

Sampah Data Lamaran Kerja di Indonesia

Mungkin lebih pas Kembalikan/dikonfirmasi saja…

Jika seseorang tidak diterima bekerja, Mohon agar berkasnya dikembalikan/dikonfirmasi saja. Di situ tertera nomor telfon. Maksudnya supaya para pelamar kerja yang sudah pasti tidak diterima, tak digantung harap, dan berkas bisa di kembalikan untuk melamar di tempat lain.

Sekilas Amplop coklat ini tampak sederhana. Namun siapa sangka, jika ternyata di situ ada orang yang sampai rela meminjam uang untuk mengurusnya, Ada orang yang sampai rela meninggalkan anaknya. Bahkan ada orang yang sampai rela berjemur di bawah terik.

Dan tidak menutup kemungkinan ada perempuan-perempuan yang harus terpaksa memangkas uang susu untuk anaknya, terpaksa menitipkan anaknya, pergi dengan semangat lalu pulang dengan harap. Ada waktu, materi dan tenaga yang berjibaku.

Apa kita pura-pura tidak tahu ?
Biaya transportasi ?
Biaya Fotocopy ?
Biaya Legalisasi ?
Nasi ?
Itu semua berbiaya.

Jika lamaran kerja tak diterima, Maka berilah penghargaan kepada mereka dengan memberikan informasi dan mengembalikan berkasnya. Syukur-syukur bisa memberi doa dan semangat untuk segera mendapatkan pekerjaan yang layak.

Jangan bicara soal langit jika di bumi saja masih banyak yang sakit.

Salam santun…🙏

https://www.facebook.com/chrisrimba.belantara/posts/pfbid02RthheYugiqjgdwgrxURqH6kTcCjwQtbpVMqTq3h2Pa1DHDq49PfQG1QWPvuuF7sel

Ini opini saya sebagai recruiter dan berusaha memposisikan diri sebagai pelamar untuk bisa berempati kepada mereka.

Sebagai pelamar kerja, saya pasti juga kecewa kalau setelah lama kirim lamaran, email, data diri, dll, ke banyak perusahaan, tapi boro-boro tanggapan, autoresponse aja ga ada. ☠️
Jadi mikirnya kemana-mana, ini email masuk spam, apa kelewat dibaca, atau gimana? 😵‍💫
Apalagi kalau harus kirim data / dokumen fisik, atau bahkan ikut antri berjam-jam, panas hujan dilalui, tapi tidak ada notifikasi sama sekali. 🥱
Yaaa, saya mengerti, membosankan memang digantung seperti itu, bahkan melihat notifikasi penolakan rasanya lebih melegakan, ya kan? 😬

Sebenarnya, alasan mereka (recruiter) “terkesan cuek atau menyepelekan kandidat” itu sangat sederhana: 👇🏻

(1) Karena terlalu banyak data, kalau semuanya dikonfirmasi/kembalikan kayak gitu akan menghabiskan waktu, jadi otomatis paling simple ya dibuang langsung… lebih hemat waktu. ⏰

(2) Ditambah lagi tekanan / deadline dari atasan, SOP perusahaan, atau hal lain, yang ga memungkinkan untuk mewujudkan hal yang diinginkan penulis yang lagi protes tersebut. 📋

Paling jawab HRD bagian recruitment: “Yaaa, sudah SOP, gimana lagi?
Ketahuilah mereka pun punya tekanan tersendiri, ga bisa bebas berbuat sesuai kehendak pribadi. 🧾

Itu secara umum, catet! ✏️

Pengalaman saya pribadi menerima ribuan lamaran per hari, memang tidak mudah untuk scanning berkas yang masuk untuk mencari kandidat yang masuk, disamping kesibukan saya lainnya seperti operasional usaha, pantau keuangan, problem-solving, urusin sales & marketing sampai managing existing team. 🤯

Maklum, level CEO nya singkatan “Chief Everything Officer“, alias owner masih megang segala perintilan kerjaan, bukan CEO yang title gagah seperti di perusahaan besar. 😬

Apalagi nih, kalau saya buka 1 posisi HANYA UNTUK 1 orang, dari 1000an email masuk, difilter lagi ada puluhan yang sesuai kriteria, saat undangan interview hanya belasan yang siap hadir, ujungnya untuk 4-6 calon kandidat akhir, hanya 2 terpilih untuk probation, sisanya yang 4 jadi cadangan. 😅

Bayangin! Segitu capeknya! 🏃🤣

Di saat usaha saya masih kecil dan semuanya masih dikerjakan super rangkap, hehe, tentu ini melelahkan, tapi saya punya empati yang sama yang bisa saya rasakan seperti perasaan penulis di atas, gimana rasanya kalau “menghadapi” ketidakjelasan, setidaknya kalau jelas ditolak, bisa langsung move on seperti yang saya sebutkan di atas. 🥸

🧐 Nah, Akhirnya terpikirkan salah satu paling sederhana untuk mengaplikasikan ini, sebenarnya tinggal buat saja statement auto-rejection kepada kandidat, misal begini:
Di dalam email recruitment, buat auto-reply seperti ini 🗂

“Terima kasih atas lamaran Anda, data yang sudah masuk akan kami pertimbangkan.
Jika setelah tanggal deadline tidak ada email balasan dari kami, mohon maaf berarti lamaran Anda belum lolos seleksi, mohon periksa kembali data-data Anda seperti: data pribadi, kelengkapan berkas, format CV, dan lain-lain.”

Atau yang semisal itu. 📝

Setelah berbagai proses, saya mulai bisa membalas email tersebut satu-persatu dengan semi-auto tentunya biar gak gempor dan menghabiskan waktu, seperti yang ada di foto ke-2 berikut ini.

Dan setelahnya tugas tersebut bisa saya delegasikan ke admin HRD. 🗓
Btw, saya berinisiatif untuk meng-edukasi para pelamar tersebut, syukur-syukur mereka mau evaluasi lalu memperbaiki cara mereka mengirimkan lamaran, atau setidaknya nama toko kami dikenang sebagai “perusahaan yang baik banget, sampai rela-relain waktu untuk ngasih masukan/revisi tanpa dibayar“.

Nah, ini contoh kesalahan fatal yang banyak dilakukan kandidat: memforward lamaran untuk PT sebelumnya berulang-ulang. ❌
Misalnya,

1. Seharusnya lamaran ditujukan ke PT Herbaltum Sukses Sinergi, dia pakai lamaran perusahaan lama PT Air Terjun Bebas. Indikasinya, 1 lamaran dipakai berulang-ulang untuk semua perusahaan yang dilamarnya. 😆 Amazing!

2. Berikutnya, dan ini nyambung dengan yang di atas, lamaran email dikirim 2021, di lamaran dia masih pakai data yang tertera di situ tanggal lamaran tahun 2018. 🤣😭

Wow sekali! Ga sedikit yang begini. 🤪

Sebegitu beratnya kah membuat template text yang disimpan di draft untuk bisa di copy-paste, lalu ganti 3 kata nama PT, kemudian 7 digit angka berupa tanggal lamaran? ☠️

Apalagi, posisi yang kami buka untuk kasus tersebut adalah data management, yang notabene-nya membutuhkan ketelitian lebih tinggi secara umum dibandingkan posisi lainnya (poin ini juga kami tekankan di kualifikasi lamaran). ✅

Dan ternyata fakta seperti ini banyak menimpa kandidat, sehingga saya berkesimpulan: “ini sudah menjadi kebiasaan yang terpola.” 📊

Pelamar capek ditolak 👉 perusahaan kelelahan seleksi 👉 pelamar makin asal dan brutal melamar pemerjaan.

Pokoknya 1 attachment for all. Tentu ini bukan men-generalisir semua pelamar. ❌
Masih banyak juga di antara mereka yang melamar penuh antusias, terutama untuk posisi penting atau kepada perusahaan yang bonafide.

Jadi artinya “1 attachment for all” itu adalah CV maupun surat lamaran yang berulang yang dikirim ke semua perusahaan yang akan dilamarnya. Filenya, itu-itu aja dari tahun ke tahun.

Efeknya apa? Angka rasio penolakan / rejection rate semakin tinggi, perusahaan makin kewalahan dengan data sampah, sampai terpaksa harus menggunakan AI untuk memfilter data, eh pelamar makin ngasal dan brutal karena bisa ditolak. ♻️

Data sampah” ini istilah saya untuk pelamar asal seperti contoh kriteria yang disebutkan di atas.

Yah, jadi lingkaran setan kan? 🌀

Jadi ga heran kalau proses rekrutmen kita dengan beberapa negara ya beda, ternyata seringkali kitanya sebagai SDM sendiri yang menciptakan pola demikian. 🤫

Walaupun, memang dari beberapa sisi, perusahaan juga kelewatam menetapkan aturan, diiringi rendahnya bayaran, plus tingginya tekanan 🫣

meme lamar kerja di indonesia kalau ada orang dalam
meme interview (instagram.com/maukerja.id)

Win-Win Solution nya gimana? Ya, Anda yang kesal dengan pola ini, mulailah jadi pengusaha dan ciptakan pola Anda sendiri. 🛀

Contoh: Di toko saya, Baca Al-Qur’an dan wawasan umum akan visi-misi kehidupan si individu lebih saya prioritaskan dibanding berbagai formalias yang umumnya diunggulkan di perusahaan (seperti IPK, Umur, Pengalaman). 📌
Dan saya ingin semua tim bekerja layaknya mereka punya porsi saham di toko tersebut, bukan sekedar budak perusahaan 🔑
Anda bisa buat versi Anda sendiri, menorobos di tengah kebosanan formalitas.

Related Post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish